* Screenshot's taken from Eric Traut's clipped presentation.
Sejak diluncurkan pada akhir Januari 2007, Windows Vista (selanjutnya disebut Vista) sedianya diproyeksikan untuk menjadi sistem operasi suksesor Windows XP (selanjutnya disebut XP). Namun, kurangnya antusiasme publik terhadap Vista mementahkan hal tersebut. Keadaan ini jauh berbeda dibandingkan pada saat XP diluncurkan untuk menggantikan Windows Me dan 2000 Professional, Oktober 2001. Bahkan hingga saat ini, dua tahun setelah Vista resmi diluncurkan, mayoritas sistem operasi yang digunakan adalah -masih tetap- XP.
"Kecintaan" publik terhadap XP tidak lepas dari beberapa sebab yang mendasar, seperti:
1. Karena desain grafisnya, Vista membutuhkan dukungan perangkat keras yang jauh lebih tinggi daripada XP.
2. Mayoritas kebutuhan dasar atas penggunaan komputer masih dapat dilakukan di XP.
3. Terlalu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk peluncuran resmi Vista. Walau disangkal Bill Gates, beberapa orang (termasuk saya) tetap berpendapat, bahwa sistem operasi ini diluncurkan berdasarkan waktu (deadline), bukan kualitas.
4. Apakah saya sudah menyebutkan spesifikasi perangkat keras yang sangat tinggi?
Selain itu, beberapa hari yang lalu Microsoft juga secara tidak langsung mendukung pernyataan ini, dengan memperpanjang masa penjualan XP (hanya untuk jenis ultra-low-cost-pc) hingga akhir Juni 2010. Sementara, layanan purna jual secara umum masih dilakukan hingga April 2009, dan layanan purna jual yang terbatas (seperti update dan service pack *Ed.) masih akan dilakukan hingga April 2014.
Yang menarik perhatian saya, belum genap dua tahun, namun Microsoft kembali membuat pernyataan akan merilis (sekitar tahun 2009) sistem operasi pengganti Vista, yaitu Windows 7 (Codename: Vienna). Apakah karena faktor penjualan yang tidak sesignifikan para pendahulunya (seperti Windows 2000 dan XP)? Atau karena promosi Vista yang bombastis tidak sejalan dengan kualitas yang sesungguhnya? *Oops*
Berita mengenai Windows 7 sudah beredar sejak pertengahan 2007 lalu, dan diberitakan menyandingkan MinWin sebagai kernelnya, kernel versi terbaru, NT. 7. Salah satu tujuannya adalah meminimalisasi kebutuhan ruang pada hardisk, MinWin hanya membutuhkan ruang hardisk sebesar 25 MB. Dibandingkan dengan versi sebelumnya, yang menggunakan tidak kurang dari 5,000 files, Windows 7 dengan MinWin (default) hanya membutuhkan kurang dari 100 files.
Dengan Windows 7 ini, sepertinya Microsoft mencoba mengaktualisasikan “permohonan maaf” mereka, karena selama ini telah mencekoki publik dengan berbagai system operasi yang membutuhkan ruang hardisk dan memori yang -teramat- sangat besar, terutama Vista.
Walau demikian, ekspektasi dan kenyataan dari Windows 7 ini dirasa masih jauh panggang dari api. Penggunaan memori (oleh MinWin dalam kondisi default) sebesar 40 MB sama sekali tidak membuat orang terkesan. Karena sebagai perbandingan, Damn Small Linux (selanjutnya disebut DSL) dapat berjalan dengan kebutuhan memori HANYA sebesar 24 MB. Perlu dicatat, 40 MB versi Windows 7 dan MinWin-nya masih berupa Command-line Interface, sedangkan 24 MB yang dibutuhkan DSL adalah SUDAH termasuk X-Windows (tampilan antarmuka grafis).
Anyway, seperti yang tadi sudah saya bilang, jika memang Windows 7 benar-benar akan diluncurkan sebagai Windows Core (tanpa tampilan antarmuka grafis), hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat menarik. Menarik karena kita akan berurusan dengan command-line untuk konfigurasinya, dan menarik untuk membayangkan (berdasarkan pengalaman Vista) spesifikasi minimum yang dibutuhkan Windows 7 saat nanti “dipersenjatai” tampilan muka grafis.
Tapi yang lebih menarik lagi adalah, membandingkan grafik penjualannya dibandingkan dengan Vista.
Monday, April 7, 2008
Windows 7 (Feat. MinWin)
Labels:
beta version,
microsoft,
minwin,
operating system,
review,
sistem operasi,
tech,
windows,
windows 7
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment